Penelitian; Identifikasi Kesesuaian Lokasi Rencana Pembangunan Perumahan Di Kawasan Cirendeu (Kelurahan Leuwigajah)-Cimahi
IDENTIFIKASI KESESUAIAN LOKASI RENCANA PEMBANGUNAN PERUMAHAN DI KAWASAN CIRENDEU (KELURAHAN LEUWIGAJAH) CIMAHI
ABSTRAK
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan kuatitatif. Berdasarkan hasil analisis kesesuaian Pembangunan Perumahan di kawasan Cirendeuh, terdapat beberapa aspek yang belum memenuhi kriteria standard yaitu aspek kondisi kemiringan lereng, aspek kerawanan bencana, aspek, aspek ketersediaan infrastruktur khususnya jaringa air bersih perpipaan. Namun ada beberapa aspek yang menunjukan bahwa kriteria tersebut memenuhi standar kelayakan lokasi pembangunan perumahan adalah aspek ketersediaan infrastruktur seperti ketersediaan jaringan jalan dan listrik. sehingga kawasan Cirendeuh tersebut tidak layak dijadikan kawasan terbangun, khususnya kawasan perumahan. Dari 8 (delapan) aspek kriteria pembangunan perumahan yang diteliti terdapat hanya 3 (tiga) aspek yang layak dijadikan kriteria pembangunan perumahan di kawasan Cireundeu, Sedengkan 5 (lima) aspek lainnya tidak memenuhi standar kesesuaian pembangunan perumahan, yang artinya lokasi di kawasan Cireundeu sangat tidak direkomendasikan untuk dibangunkan kawasan perumahan.
Kata kunci: Karaketristik Fisik dan Rawan
Bencana, Ketersediaan Infrastruktur Perumahan, Kesesuaian Lokasi Perumahan.
1. PENDAHULUAN
Pertumbuhan penduduk akan mempengaruhi berbagai
aspek kehidupan baik ekonomi maupun sosial, terutama peningkatan mutu kehidupan
atau kualitas penduduk dalam sumber daya manusia yang bersamaan dengan besarnya
jumlah penduduk yang tidak terkontrol. Semuanya terkait penyediaan anggaran dan
fasilitas kesehatan, pendidikan serta ketersediaan pangan. Perumahan merupakan
kebutuhan papan yang bersifat primer, selain kebutuhan pangan dan sandang,
sehingga setiap orang berhubungan dengan real estate yang satu ini. Pembangunan
perumahan beserta sarana dan prasarananya perlu mendapatkan prioritas mengingat
tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan dasar (basic needs). Adanya
keterbatasan lahan dan kebutuhan lahan yang semakin meningkat sejalan dengan
pertumbuhan penduduk dan kegiatan sosial ekonomi yang menyertainya, berdampak
pada semakin beragamnya fungsi kegiatan di kawasan perkotaan.
Kota Cimahi merupakan bagian dari Metropolitan
Bandung, secara otomatis harus mampu menjadi kota yang dapat melayani kota
induknya, yaitu Kota Bandung. Implikasinya permintaan sektor perumahan menjadi
sangat tinggi di Kota Cimahi. Pembangunan kompleks perumahan di Cimahi itu
sendiri sudah merambah ke perbukitan di Kota Cimahi. Kawasan daerah resapan air
dan ruang terbuka hijau (RTH) luasnya terus berkurang dan beralih fungsi
menjadi hutan bangunan beton. Seperti yang terjadi di kawasan perbukitan sekitar
area bekas TPA Leuwigajah, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota
Cimahi. Pada saat ini lokasi tersebut
sudah mulai dimasuki pengembang untuk dijadikan kawasan perumahan baru.
Kawasan Cireundeu merupakan kawasan perbukitan dengan kemiringan lerengnya mencapai 40% yang artinya secara teknis kawasan tersebut tidak Sesuai untuk dibangunnya kompleks perumahan karena memiliki tingkat kelerengan yang curam. Selain itu, kawasan Cireundeu yang masih hijau dan asri ini juga ditetapkan sebagai salah satu RTH Kota Cimahi Selatan. Sehingga perlunya diidentifikasi lebih lanjut apakah pembangunan perumahan di kawasan tersebut Sesuai secara fisik, kebijakan, dan ketersediaan infrastruktur permukiman.
2. METODOLOGI
Metode yang digunakan adalah metode deskriptif
kualitatif yaitu dengan cara membandingkan lokasi eksisting kawasan Cireundeu
dengan standar kesesuaian lahan untuk perumahan. Data-data fisik dasar yang
berkaitan dengan kesesuaian lahan untuk perumahan, data tersebut antara lain
fisiografi, kerawanan terhadap bencana alam serta penyediaan infrastruktur
perumahan. Bertujuan unuk mendapatkan kelas kesesuaian lahan permukiman, kelas
kerawanan bencana tersebut disesuaiakan dengan kelas arahan fungsi kawasan.
2.1 Metode Pengumpulan
Data
Data ini didapat dari buku teks, makalah-makalah
dan jurnal-jurnal yang berkaitan dengan penelitian ini. Keuntungan dari data
sekunder ini adalah peneliti tidak terlibat lagi dalam mengusahakan dana untuk
peneliti lapangan, merekrut dan melati pewawancara, menentukan sampel dan
mengumpulkan data di lapangan yang banyak memakan energi dan waktu (Singarimbun, 1989 : 12). Berikut adalah
Tabel Kebutuhan Data Sekunder pada penelitian ini.
Tabel 2.1 Kebutuhan Data Sekunder
Tabel 2.2 Variabel Penelitian
2.2 Metode Analisis
Pada bagian ini akan dijelaskan metodologi studi
yang digunakan sebagai upaya untuk mencapai tujuan pertanyaan dari permasalahan
di atas yaitu dengan cara mengidentifikasi kesesuaian pembangunan perumahan di
Kawasan Cireundeu.
Tahapan
analisis yang akan dilakukan meliputi:
1. Identifikasi
kawasan penelitian
Untuk menentukan suatu analisis kesesuaian
lahan, diperlukan terlebih dahulu proses pengidentifikasian yang mencakup
variabel- variabel pendukung dan pembentuk analisis tersebut. Identifikasi yang
di perlukan untuk mendukung data pada tahap analisis yaitu identifikasi
gambaran umum Cireundeu, identifikasi
kemiringan lereng yang mendukung adanya analisis kesesuaian lahan untuk Kawasan
Cireundeu terhadap rencana pola ruang.
2. Analisis
Deskriptif Kualitatif
Teknik analisis tahap ini menggunakan analisis
deskriptif kualitatif yaitu dengan cara menggambarkan atau membuat perbandingan
antara karakter fisik eksisting kawasan Cireundeu dengan standar kesesuaian
lahan untuk perumahan. Dari hasil perbandingan tersebut nantinya akan
menghasilkan kesesuaian lahan yang selanjutnya dapat disebut sebagai lahan
potensial perumahan. Pada analisis ini peniliti menggambarkan secara deskriptif
tentang aspek-aspek yang mempengaruhi kesesuaian pembangunan perumahan
khususnya di Kawasan Cireundeu.Hasil dari
analisis kesesuaian lahan ini berupa matrik
kesesuaian untuk dijadikan dasar
pertimbangan pembangunan perumahan di kawasan tersebut.
Hasil
dari analisis kesesuaian lahan ini berupa matrik
kesesuaian untuk dijadikan dasar
pertimbangan pembangunan perumahan di kawasan tersebut.
3. HASIL PENELITIAN
3.1 Analisis Arahan
Rencana Pola Ruang
Berdasarkan rencana pola ruang RTRW Kota Cimahi
terdapat klasifikasi kawasan lindung dan kawasan budidaya. Arahan Rencana pola
ruang Kota Cimahi berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Cimahi tahun
2012-2032 bahwa Kota Cimahi di peruntukan sebagai berikut:
Tabel 3.1 Arahan Pola Ruang Kota Cimahi
Berdasarkan RTRW Kota Cimahi pada rencana pola
ruang Kawasan Cireundeu memiliki arahan pola ruang sebagai kawasan lindung yang
memberikan perlindungan di bawahnya sebagai kawasan resapan air. Rencana pola
ruang ini menjadi aspek legal dalam implementasi pembangunan yang ada di Kota
Cimahi. Sehingga jika dilihat dari sisi rencana tata ruang kawasan cireundeu
tidak dapat dibangun menjadi kawasan perumahan.
Tabel 3.2 Arahan Pola Ruang di Kawasan Cireundeu
Sebagai daerah yang memiliki sifat resapan air yang
tinggi, daerah resapan air berkemampuan untuk menampung debit air hujan yang
turun di daerah tersebut. Daerah resapan air secara tidak langsung juga
berdampak pada pengendalian banjir untuk daerah yang berada lebih rendah
darinya karena air hujan tidak turun ke daerah yang lebih rendah namun diserap
sebagai air tanah. Air yang di serap ini kemudianakan menjadi cadangan air di
musim kering serta suplai air untuk daerah yang berada di bawahnya.
Jika kawasan Cireundeu dibangunkan kawasan perumahan,
maka akan mengurangi fungsi kawasan resapan air sebagai penampung air hujan dan
beresiko terjadinya bencana khususnya banjir dan longsor
3.2 Analisis Fisik dan Rawan Bencana Kawasan Cireundeu
3.2.1 Analisis Kelerengan Kawasan Cireundeu
Standar Kriteria Kesesuaian lahan menggunakan standard
SNI 03-1733-2004 Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan,
standard kemiringan lahan/lereng yang diizinkan untuk perumahan yaitu dengan
kelerengan lahan 0-15% (datar Landai). Kemiringan Lahan/Kelerengan di kawasan
Cireundeu berada pada kelerengan 15-25% dan 25-40%, dapat dilihat pada tabel di
bawah berikut :
Dari hasil analisis kemiringan lereng di Kawasan
Cireundeu terlihat bahwa Kawasan Cireundeu memiliki 3 kelas kelerengan wilayah
yaitu kelas kelerengan menengah 8-15% dengan luas 0,76 Ha, kelas kelerengan
agak curam 15-25% dengan luas 1,82, dan kelas kelerengan curam 25-40% dengan
luas 1,06. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dan peta di bawah ini.
Dari hasil analisis kemiringan lereng di Kawasan Cireundeu terlihat bahwa Kawasan Cireundeu memiliki 3 kelas kelerengan wilayah yaitu kelas kelerengan menengah 8-15% dengan luas 0,76 Ha, kelas kelerengan agak curam 15-25% dengan luas 1,82, dan kelas kelerengan curam 25-40% dengan luas 1,06. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dan peta di bawah ini.
3.2.2 Analisis Rawan Bencana Kawasan Cireundeu
Ancaman bencana di Kawasan Cireundeu terlihat bahwa bencana pergerakan tahanh/longsor berada pada kelas rendah, kelas menengah, dan kelas tinggi. Hal ini menjelaskan bahwa Kawasan Cireundeu tidak bebas dari ancaman bencana terutama bencana longsor, sehingga jika dibangun kawasan perumahan akan menjadi masalah ke depannya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada peta rawan bencana gerakan tahah dan tabel di bawah ini.
Gambar 3.7 Peta Rawan Longsor Kawasan Cireundeu
Tabel 3.7 Luas Potensi Banjir Berdasarkan Kecamatan![]()
Pada Kawasan Cireundeu tidak terdapat ancaman
bencana bajir, hal ini dikarenakan kawasan ini belokasi pada dataran tinggi di
Kota Cimahi sehingga air hujan yang turun akan langsung mengalir ke dataran
rendah Kota Cimahi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada peta rawan bencana
banjir dan tabel di bawah ini.
Tabel 3.8 Ancaman Bencana Banjir di Kawasan Cireundeu
3.3 Analisis Infrastruktur
Perumahan
3.3.1 Jaringan Jalan dan Drainase
Jalan merupakan prasarana untuk memperlancar kegiatan
perekonomian, meningkatkan usaha pembangunan. Peningkatan pembangunan jalan
dapat memudahkan mobilitas penduduk dan memperlancar perdagangan antar daerah.
Jalan berperan penting untuk mewujudkan perkembangan antar daerah secara
seimbang.
Kondisi jarigan jalan di sekitar wilayah kawasan
Cireundeu tidak sebanding dengan kondisi jaringan drainase di sekitar kawasan
tersebut. Ketersediaan jaringan drainase di kawasan Cireundeu bisa dikatan
minim bahkan hampir tidak terlihat adanya jaringan drainase di sekitar wilayah
kawasan Cireundeu. Hal ini mengakibatkan sering terjadinya kerusakan jalan oleh
limpasan air hujan dan sangat rentan akan terjadinya erosi.
Tabel 3.9 Analisi
Kondisi Jaringan Jalan di Kawasan Cireundeu
3.3.2 Jaringan Air
Bersih dan Listrik di Kawasan Cireundeu
Hingga saat ini sistem jaringan air bersih berbasis
perpipaan di kawasan Cireundeu masih belum dapat melayani seluruh kebutuhan
masyarakat. Dengan kondisi seperti itu, tidak diragukan lagi masalah air bersih
ke depannya jika dikembangkan kawasan perumahan akan menjadi masalah
ketersediaan air bersih.
Penduduk yang belum terlayani air bersih dengan sistem
perpipaan dapat memenuhi kebutuhan air bersihnya melalui pembuatan tempat
penampungan air hujan dan sumur-sumur, baik yang dikelola secara individu
maupun secara komunal. Sehingga penggunaan air tanah tidak terkendali dan akan
berpotensi terjadi penurunan muka air tanah.
Ketersediaan jaringan listrik di sekitar wilayah
kawasan Cireundeu bisa dikatakan memadai ditandai dengan adanya jaringan
listrik yang mengikuti pengembangan jaringan jalan di sekitar kawasan
Cireundeu.
Tabel 3.11
Analisis Kondisi Jaringan Listrik di Kawasan Cireundeu
Tabel 3.12
Analisis Kondisi Air Bersih di Kawasan
Cireundeu
3.3 Analisis Kesesuaian Rencana Pembangunan Perumahan di Kawasan Cireunde
Pada aspek ketersedian infrastruktur sudah terdapat
jaringan jalan dan listrik, tetapi belum terdapat jaringan drainase pada sisi
jalan sehingga air hujan yang turun akan melimpas pada badan jalan yang akan
merukan kualitas fisik jalan. Selain itu, belum tersedianya jaringan air bersih
perpipaan pada kawasan cireundeu sehingga jika dibangun kawasan perumahan akan
terjadi penggunaan air tanah dan berpotensi merusak lingkungan.
Untuk lebih jelasknya hasil analisis kesesuaian
pembangunan perumahan di Kawasan Cireundeu dapat dilihat pada tabel di bawah
ini.
4. KESIMPULAN
Bedasarkan hasil analisis kebijakan, analisis fisik
dan rawan bencana, serta analisis ketersediaan infrastruktur pembangunan
perumahan di Kawasan Cireundeu tidak Sesuai dapat di bangun perumahan, hal ini
didukung oleh aspek kebijakan pada rencana pola ruang yang menetapkan kawasan
cireundeu sebagai kawaran lindung resapan air. Selain itu, pada aspek fisik
(kelerengan dan kebencanaan) juga tidak dianjurkan untuk dibangun kawasan
perumahan, hal ini dikarenan sebagian besar kemiringan lerengnya > 15 % dan
kawasan ini memiliki ancaman bencana longsor.
Pada aspek ketersedian infrastruktur sudah terdapat
jaringan jalan dan listrik, tetapi belum terdapat jaringan drainase pada sisi
jalan sehingga air hujan yang turun akan melimpas pada badan jalan yang akan
merukan kualitas fisik jalan. Selain itu, belum tersedianya jaringan air bersih
perpipaan pada kawasan cireundeu sehingga jika dibangun kawasan perumahan akan
terjadi penggunaan air tanah dan berpotensi merusak lingkungan.
Dari
hasil analisis dapat dihasilkan beberapa temuan studi terkait analisis
kesesuaian pembangunan perumahan di Kawasan Cireundeu Kota Cimahi sebagai
berikut :
1. Pola
ruang Kawasan Cireundeu memiliki arahan sebagai kawasan lindung resapan air
sehingga tidak dapat dibangun kawasan perumahan.
2. Kemiringan
lereng kawasan perumahan Cireundeu berada pada kelerengan 8-15%, 15-25%, dan
24-40 % sehingga tidak direkomendasikan untuk menjadi kawasan perumahan secara
fisik.
3. Pada
Kawasan Cireundeu bencana pergerakan tahah/longsor berada pada kelas rendah dan
menengah, sehingga tidak direkomendasikan secara ancaman bencana longsong.
4. Pada
Kawasan Cireundeu tidak terdapat ancaman bencana banjir, sehingga dapat
dibangun menjadi kawasan perumahan karena bebas banjir.
5. Terdapat
jalan menuju wilayah sekitar kawasan Cireundeu dengan Jalan yang lebar
dankondisi permukaan jalan beraspal tidak berlubang. Kondisi Jalan sebagian
perkerasan berkerikil dengan lebar jalan 2,5m, dan sebagiannya lagi menuju
kawasan Cireundeu masih berupa gusuran tanah, dengan kondisi lereng yang curam
25%-40%.
6. Pada
jaringan jalan di Kawasan kawasan
Cireundeu belum terdapat jaringan drainase sehingga berpotensi merusak fisik
badan jalan.
7. Sudah
terdapat jaringan listrik di Kawasan Cireundeu, sehingga jika akan dibangun
kawasan perumahan sudah terlayani energy listrik
8.
Belum tersedianya jaringan air bersih perpipaan
di Kawasan Cireundeu.
Dari 8 penilaian tentang kesesuaian pembangunan
perumahan di Kawasan Cireundeu hanya 3 aspek yaitu ketersediaan jaringan jalan,
drainase, dan bebas dari bencana banjir yang Sesuai. Sedangkan 5 aspek lainnya,
terutama aspek kebijakan rencana pola ruang mengahasilkan kesimpulan yang tidak
Sesuai untuk dibangun perumahan, sehingga dapat disimpulkan secara umum bahwa
pembangunan perumahan di Kawasan Cireundeu tidak Sesuai berdasarkan aspek yang
telah ditetapkan.
DAFTAR
PUSTAKA
Kartasasmita, G. 1994. Manajemen
Pembngunan Untuk Negara Berkembang.Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.
Undang-Undang RI No. 1 Tahun 2011
Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.
Nurmandi, A. 2014. Manajemen
Perkotaan.Yogyakarta: JKSG.
Rustiadi, E.S. Saeful H. dan Panaju, D.R.
2011. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Jakarta: Yayasan Pustaka obor Indonesia.
Suharsimi Arikunto. Manajemen
Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta, 1993.
Pedoman penentuan standar pelayanan
minimal (SPM) bidang penataan ruang,perumahan dan permukiman dan pekerjaan
umum (Keputusan Menteri Permukiman dan PrasaranaWilayahNo.534/KPTS/M/2001)
Permen 05/PRT/M/ 2008 pedoman penyediaan dan
pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan
SNI 03-1733-2004 tentang Tata Cara
Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan
SNI 03-6967-2003 persyaratan umum system
jaringan geometrik jalan perumahan.
Undang-Undang RI No. 1 Tahun 2011
Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.
Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Cimahi Tahun 2012-2032
Badan Pusat Statistik (BPS). Kota Cimahi dalam Angka Tahun 2018


















Komentar
Posting Komentar